Artikel Kurikulum dan Pembelajaran

A. Peranan Kurikulum dalam Pembelajaran
Kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang telah direncanakan untuk mengemban peranan bagi pendidikan siswa. Berdasarkan analisa dari sifat masyarakat dan kebudayaan, sekolah bagi institusi sosial dalam melaksanakan operasinya, paling tidak akan menjalankan 3 peranan kurikulum yang dinilai sangat penting, yakni:
a. Peranan konservatif,
b. Peranan kritis dan evaluatif,
c. Peranan kreatif.
Ketiganya harus berjalan seimbang dalam arti terdapat keharmonisan di antara ketiganya. Maka kurikulum akan dapat memenuhi tuntutan waktu dan keadaan dalam membawa siswa menuju pada budaya masa depan.
A. Hubungan Kurikulum dan Pembelajaran
a. Model Dualistic, Model dualistic dari suatu kurikulum adalah keadaan dimana kurikulum dan pembelajaran adalah dua sistem terpisah, tidak bertemu. Perencanaan dan pelaksanaan tidak serasi dan tidak sejalan. Sehingga tidak ada korelasi yang mengaitkan kedua hal tersebut
b. Model Berkaitan, Pada model berkaitan, terdapat hubungan antara kurikulum dan pembelajaran. Di dalam keterkaitan tersebut, ada bagian essensial yang terpadu.
c. Model Konsentris,, Dalam Model Konsentris, kurikulum dan pembelajaran berhubungan dengan kemungkinan bahwa kurikulum dapat berada dalam ruang lingkup pembelajaran atau sebaliknya, dimana pembelajaran dapat pula berada dalam ruang lingkup kurikulum. Keterlibatan ini terjadi jika salah satu unsur merupakan subsistem dengan yang lain atau salah satu bergantung dengan yang lain.
d. Model Sirkuit, Dari keempat model yang dijelaskan oleh Peter F. Olive, Model Sirkuit adalah model kurikulum yang paling erat korelasinya dengan pembelajaran. Tidak hanya sekedar terkait atau menyinggung salah satu aspek, namun model ini menunjukkan hubungan timbal balik antara kurikulum dan pembelajaran. Keduanya saling berpengaruh. Kurikulum berfungsi memberikan keputusan tentang pembelajaran, sebaliknya keputusan tentang pembelajaran akan mempengaruhi peningkatan kurikulum (sesudah dievaluasi).
Berdasarkan keempat model yang menyatakan hubungan antara kurikulumn dengan pembelajaran diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kurikulum dan pembelajaran memiliki hubungan yang erat, tiap aspeknya saling mempengaruhi perkembangan masing-masing, serupa tapi tak sama, meskipun keduanya dapat dianalisis secara terpisah, namun fungsinya tidak dapat dipisahkan.

C. Model Pengembangan Kurikulum
Model-Model Kurikulum yang lazim digunakan sebagai rencana pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Model Administrasi
Model administrasi atau line staff dianggap sebagai model yang paling awal dikenal. Disebut line staff karena pada model ini inisiatif pengembangan kurikulum dimulai dari pejabat tingkat atas (Superintendent). Pada Model Administrasi, inisiatif rekayasa pengembangan kurikulum menggunakan konsep atau prosedur administrasi dimana administrator atau pejabat pendidikan membentuk komisi pengarah yang bertugas merumuskan konsep dasar dan landasan kebijakan dan strategi utama dalam mengembangkan kurikulum (Sudrajat,2008).
Namun ada permasalahan yang sering muncul didalam pemilihan Model Administrasi ini, antara lain:
a. Menuntut adanya kesiapan guru sebagai pelaksananya,
b. Memerlukan internalisasi kurikulum yang dikembangkan, tentunya malalui penataran awal,
c. Kecenderungan bersifat searah, karena adanya sentralisasi dalam diseminasinya,
d. Pada tahun-tahun pertama pelaksanaan, ada monitoring secara intensif dan berkelanjutan tidak dapat dihindarkan.
2. Model Grass root
Model Grass Root atau akar rumput dikembangkan oleh Smith, Stanley & Shores pada tahun 1957. Model Grass Root berbeda dengan rekayasa model administrasi. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum model ini bersasal dari bawah. Misalnya model ini diawali oleh guru, pembina disekolah dengan mengabaikan metode pembuatan keputusan kelompok secara demokratis dan dimulai dari bagian-bagian yang lemah kemudian diarahkan untuk memperbaiki kurikulum tertentu yang lebih spesifik atau kelas-kelas tertentu.
Menurut Agitara tahun 2009, orientasi yang demokratis dari rekayasa ini bertanggung jawab membangkitkan 2 asumsi yang sangat penting yaitu :
a. Bahwa kurikulum hanya dapat diterapkan secara berhasil apabila guru dilibatkan secara langsung dengan proses pembuatan dan pengembangannya.
b. Bukan hanya para profesional, tetapi murid, orang tua, anggota masyarakat lain harus dimasukkan dalam proses pengembangan kurikulum. Model ini lebih berorientasi kepada sifat demokratis dan desentralisasi dalam pelaksanaannya.
Ada dua dalil atau ketentuan yang sebaiknya diperhatikan dalam menyusun kurikulum ini:
a. Penerapan kurikulum dapat berhasil bila guru terlibat dalam penyusunan dan pengembangannya
b. Melibatkan para ahli, siswa, orang tua dan masyarakat

Ada empat prinsip pengembangan kurikulum dalam model grass root ini antara lain :
a. Kurikulum akan berkembang sebagai kewenangan profesional pada pengembangan guru
b. Kewenangan guru dapat diperbaiki bila dilibatkan dalam revisi masalah kurikulum
c. Bila guru dalam menentukan tujuan yang akan dicapai dalam menghadapi seleksi, definisi, pemecahan masalah dan mengevaluasi hasil, mereka perlu dipertimbangkan keterlibatannya.
d. Mempertemukan kelompok dalam tatap muka agar dapat memahami satu dengan yang lain secara lebih baik untuk mencapai konsensup prinsip dasar, tujuan dan perencanaannya.
3. Model Demonstrasi
Model Demonstrasi merupakan prakrasa seorang atau sekelompok guru yang berkerjasama dengan para ahli dengan maksud melakukan perbaikan terhadap kurikulum. Sistematika model ini hampir mirip model grass root, karena idenya berasal dari bawah dan biasanya berskala kecil, karena menyangkut beberapa sekolah serta mencakup satu atau keseluruhan komponen kurikulum.
Menurut Smith, stanley dan shores (1957 dalam zais, 1976, dalam efendi 2009) ada dua variasi ,model demonstrasi :
a. Sekelompok guru dari suatu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum yang tujuannya adalah mengadakan penelitian dan pengembangan yang diharapkan dapat digunakkan bagi lingkungan yang lebih luas
b. Tidak bersifat formal, karena beberapa guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri, dan mencoba menggunakkan hal yang lain dari yang brelaku
Kebaikan model demonstrasi antara lain :
a. Sifat kurikulum lebih praktis dan dungsionalis karena langsung dikaitkan dan diterapkan pada kehisupan nyata.
b. Perubahan atau penyempurnaan kurikulum dalam skala kecil atau aspek tertentu yang khusus, sedikit sekali untuk ditolak administrator, dibanding dengan perubahan atau penyempurnaan menyeluruh,
c. Pengembangan kurikulum dalam skala kecil dengan model demonstrasi dapat mengatasi permasalahan dokumen yang baik namun hasilnya kurang memadai.
d. Guru sebagai narasumber atau yang berinisiatif dapat menjadi pendorong adnisistrator untuk mengembangkan program baru.
Meskipun dalam pelaksanaanya tidak menutup kemungkinan terjadi sikap tak acuh dari guru yang tidak terlibat, namun kondisi tersebut dapat ditekan dengan penalaran dan sosialisasi tertentu yang dilakukan semua pihak baik pihak aktif maupun pasif.
4. Model Beauchamp
Menurut Beauchamp (dalam Sukmadinata, 2005:30 dalam Herdiana,2009), teori kurikulum secara konseptual berhubungan erat dengan pengembangan teori dan ilmu-ilmu lain. Hal-hal penting dalam pengembangan teori kurikulum adalah penggunaan istilah teknis yang tepat dan konsisten, analistis dan klasifikasi pengetahuan, penggunaan penelitian-penelitian prediktif untuk menambah konsep, generalisasi atau kaidah-kaidah, sebagai prinsip-prinsip yang menjadi pegangan dalam menjelaskan fenomena kurikulum. Dalam rekayasa pengembangan kurikulum, Beauchamp secara kritis mengindetifikasi beberapa keputusan yang mendasari rekayasa pengembangan kurikulum diantaranya :
a. Menetapkan batas lingkup wilayah yang akan dilibatkan dalam kurikulum tersebut, misal cakupan tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi atau alam satu wilayah negara. Penetapan batas atau lingkup wilayah ini ditentukan oleh wewenang yang dimiliki pengambil kebijakan serta tujuan dari pengembangan kurikulum.
b. Menyeleksi dan menetapkan anggota yang terlibat dalam pengembangan kurikulum. Dalam hal ini anggota yang terlibat meliputi para ahli pendidikan atau kurikulum, para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih, para profesional dalam sistem pendidikan, serta profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.
c. Organisasi dan prosedur perencanaan dalam menetapkan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, evaluasi serta dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum.
d. Imlementasi kurikulum merupakan program yang paling penting sebab membutuhkan kesiapan guru, siswa, fasilitator material dan biaya maupun manajerialnya.
e. Evaluasi kurikulum. Ini memiliki 4 cakupan diantaranya : evaluasi pelaksanaan kurikulum oleh guru, evaluasi desain, evaluasi belajar siswa, evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum.
5. Model hubungan interpersonal dari Roger
Rekayasa pengembangan kurikulum yang dilakukan roger melalui beberapa tahapan:
a. Pemilihan target sistem pendidikan. Dalam hal ini pemilihan dapat mengikutsertakan pejabat pendidikan atau administrator.
b. Melibatkan pengalaman guru dalam kelompok secara intensif.
c. Mengembangkan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pembelajaran.
d. Melibatkan orang tua dalam kegiatan kelompok secara intensif.

6. Model Tyler
Sebelum merencanakan suatu model kurikulum, Ralph W Tyler merumuskan empat pertanyaan mendasar yang harus terjawab dalam suatu pengembangan kurikulum. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:
a. What educational purpose should the school seek to attain? à Apa tujuan pendidikan yang harus dicapai di sekolah?
b. What educational experiences can be provided that are likely to attain these purposes? à Apa pengalaman pendidikan yang dapat disediakan jika kita mencapai tujuan tersebut?
c. How can these educational experiences be effectively organized? à Bagaimana pengalaman pendidikan dapat diorganisir secara efektif?
d. How can we determine whether these purposes are being attained? à Bagaimana kita mampu memutuskan apakan tujuan ini telah tercapai?

Dari keempat pertanyaan mendasar tersebut, disusunlah langkah-langkah pengembangan kurikulum model Tyler adalah sebagai berikut:
a. Menentukan tujuan
b. Menentukan pengalaman belajar
c. Pengorganisasian pengalaman belajar
d. Evaluasi
7. Model Inverted dari Taba
Model Inverted dari Hilda Taba cenderung bersifat sederhana. Secara garis besar langkah-langkah pengembangan kurikulum hilda taba pada dasarnya mengikuti cara-cara yang lazim dilakukan melalui urutan :
a. Menentukan tujuan pendidikan.
b. Menseleksi pengalaman belajar.
c. Mengoganisasi bahan kurikulum kegiatan belajar
d. Evaluasi hasil kurikulum
Untuk pembaharuan kurikulum Taba menganjurkan cara yang berbeda dengan yang lazim digunakan untuk mengembangkan kurikulum umumnya. Menurut Taba tahapan-tahapan yang harus dilalui sebagai berikut:
a. Tahap pertama, penyusunan satuan pelajaran bersama sekelompok guru.
b. Tahap kedua, melakukan pengujian eksperimen.
c. Tahap ketiga, melakukan revisi dan konsolidasi
d. Tahap keempat, mengembangkan kerangka kerja
e. Tahap kelima, melakukan perakitan (instalasi dan deseminasi)

DAFTAR REFERENSI
http://hanyasa.blogspot.com/2011/12/makalah-model-pengembangan-kurikulum.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s